Pages

Monday, October 1, 2012

WARNA

Semua benda materi yang ada di muka bumi ini merefleksikan suatu warna yang indah. Hal ini membuat saya tertarik untuk membahas sedikit mengenai warna.

Apakah warna itu? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, warna adalah kesan yang diperoleh mata dari cahaya yang dipantulkan oleh benda-benda yang dikenainya, dan menurut Teori Brewster, warna dibagi menjadi empat kelompok warna, yaitu: warna primer, warna sekunder, warna tersier dan warna netral.

Warna Primer
Merupakan warna dasar yang tidak merupakan campuran dari warna-warna lain. Warna yang termasuk dalam golongan warna primer adalah merah, biru, dan kuning.

- warna primer



Warna Sekunder
Merupakan hasil pencampuran warna-warna primer dengan proporsi 1:1. Misalnya warna jingga merupakan hasil campuran warna merah dengan kuning, hijau adalah campuran biru dan kuning, dan ungu adalah campuran merah dan biru.

- warna sekunder



Warna Tersier
Merupakan campuran salah satu warna primer dengan salah satu warna sekunder. Misalnya warna jingga kekuningan didapat dari pencampuran warna kuning dan jingga. Warna coklat merupakan campuran dari ketiga warna merah, kuning dan biru.

- warna tersier



Warna Netral
Warna netral merupakan hasil campuran ketiga warna dasar dalam proporsi 1:1:1. Warna ini sering muncul sebagai penyeimbang warna-warna kontras di alam. Biasanya hasil campuran yang tepat akan menuju hitam.

- warna netral




Hal lain mengenai warna adalah, bahwa ternyata warna tidak hanya merupakan sekedar sebuah pengalaman atas pancaran / refleksi sinar yang diterima oleh panca indera penglihatan, akan tetapi warna dapat memberikan suatu efek psikologis bagi individu yang melihatnya.
Sebagai contoh:
Warna Merah: memberikan kesan berani, panas, atau marah.
Warna Kuning: memberikan kesan cerah dan ceria
Warna Biru: memberikan kesan tenang dan penyendiri
Warna Hijau: memberikan kesan segar dan lebih membumi (dikaitkan dengan hijau daun)
Warna Ungu: memberikan kesan spiritual, kekayaan, dan kebijaksanaan.
Warna Pink: memberikan kesan, feminim, romantisme dan kelembutan.
Warna Cokelat: memberikan kesan hangat, aman, nyaman, dan dapat diandalkan.
Warna Hitam: memberikan kesan misterius, gelap, namun elegan.
Warna Putih: memberikan kesan bersih, suci, dan ‘polos’.

Sunday, September 30, 2012

Tikus Dalam Mangkuk Susu

Ini adalah kisah tentang dua ekor tikus. Si tikus gemuk dan si tikus kurus. Suatu hari saat mencari makanan, keduanya menemukan sebuah mangkuk besar yang penuh dengan susu. Mereka pun bergegas lompat dan masuk ke dalam mangkuk yang penuh dengan susu itu. Setelah cukup lama mereka berenang dalam mangkuk yang penuh dengan susu itu, mereka pun sadar bahwa mereka tidak dapat keluar karena tingginya mangkuk. Dengan sekuat tenaga mereka mencoba melompat keluar, namun tetap tidak berhasil karena air susu membuat lompatan mereka menjadi lemah. Mereka pun hanya bisa bertahan hidup dengan tetap mengayuhkan kaki mereka agar mereka tidak tenggelam.

Si tikus gemuk berkata kepada si tikus kurus, “Temanku, sepertinya tidak ada gunanya kita menunggu bantuan dan tetap bertahan mengayuhkan kaki kita, ini akan membuat kita lelah. Mungkin seharusnya kita menyerah saja.” Si tikus kurus berkata, “Bertahanlah sebentar lagi temanku, tetaplah mengayuhkan kaki mu. Seseorang akan mengeluarkan kita dari sini..” Mereka pun bertahan mengayuhkan kaki selama berjam-jam lamanya.

Kemudian si tikus gemuk berkata, “Aku sudah tidak dapat bertahan lagi, mengayuh berjam-jam membuat ku lelah. Lagipula percuma saja kita menunggu seseorang menolong kita, kita berada di dalam mangkuk yang besar ini, mereka pasti tidak akan dapat melihat kita. Sepertinya kita memang ditakdirkan untuk tenggelam di sini. Semua ini tidak ada gunanya, karena kita pasti akan tenggelam juga akhirnya. Aku menyerah..” Si tikus gemuk pun berhenti mengayuhkan kakinya, dia menyerah dan membiarkan dirinya tenggelam. Namun si tikus kurus tetap bertahan dan mengayuh.

Tak berapa lama kemudian, tikus kurus merasakan sesuatu yang padat di bawah kakinya. Ternyata, kayuhan kakinya perlahan-lahan mengubah susu tersebut menjadi mentega. Ia pun mengayuh sedikit lagi hingga akhirnya dia dapat melompat keluar dari dalam mangkuk besar itu.


Cerita mengenai tikus gemuk dan tikus kurus ini mengilustrasikan tentang bagaimana dua orang melihat satu masalah yang sama dengan dua sudut pandang yang berbeda dan memberikan respon yang berbeda pula. Terkadang kita berperan seperti si tikus gemuk yang memandang masalah yang dihadapinya dengan pesimis. Merasa tidak akan mampu mengatasi keadaan, hingga menyerah dan membiarkan diri hanyut terbawa dalam masalah yang dihadapi. Marilah kita belajar menjadi si tikus kurus yang optimis dalam menghadapi masalah, tidak mudah menyerah, tetap bertahan dan berusaha hingga membawa dia menuju ke jalan penyelesaian masalahnya.

Saturday, September 29, 2012

Berlian Yang Berharga

Hafiz adalah seorang petani yang hidup di sebuah desa yang permai bersama keluarganya. Ia merasa bahagia dan puas dengan hidupnya. Dia merasa bahagia karena dia puas, dan merasa puas karena dia bahagia. Suatu hari, seorang bijak datang kepadanya dan menceritakan tentang kemuliaan, kekuatan dan berharganya sebuah berlian bila dimiliki oleh seseorang. Orang bijak itu berkata, "Jika Anda memiliki berlian seukuran ibu jari Anda, Anda bisa memiliki kota Anda sendiri. Jika Anda memiliki berlian sebesar kepalan tangan Anda, Anda mungkin bisa memiliki negara sendiri.." Dan kemudian orang bijak itu pergi. Malam itu Hafiz tidak bisa tidur. Dia merasa tidak bahagia dan tidak puas. Dia merasa tidak bahagia karena dia tidak puas, dan dia merasa tidak puas karena tidak bahagia.

Keesokan harinya ia membuat persiapan untuk menjual tanah pertaniannya, meninggalkan keluarganya dan pergi mencari berlian. Dia mencari ke seluruh Afrika namun tidak bisa menemukan apapun. Dia mencari ke penjuru Eropa namun dia tidak bisa menemukan apapun. Ketika ia sampai di Spanyol, ia merasa lelah secara emosional, fisik, dan finansial. Ia menjadi begitu kecewa hingga ingin melemparkan dirinya ke Sungai Barcelona dan bunuh diri.

Di desa, di ladang pertanian yang telah dijual Hafiz, pria yang telah membeli ladang pertaniannya sedang menyiram unta di sebuah sungai yang mengaliri ladang pertanian itu. Di sungai itu, Sinar matahari pagi menghantam batu dan membuatnya berkilau seperti pelangi. Dia berpikir itu akan indah jika disematkan pada bagian mantel. Dia pun mengambil batu itu dan meletakkannya di ruang tamu.

Sore itu sang orang bijak datang dan melihat batu berkilau. Dia bertanya, "Apakah Hafiz kembali?" Pemilik baru ladang pertanian itu berkata, "Tidak, mengapa kau bertanya?" Orang bijak berkata, "Karena itu adalah berlian. Saya dapat mengenalinya hanya dengan melihatnya.." Pria itu berkata, "Tidak, itu hanya sebuah batu yang saya ambil dari sungai. Ayo, saya akan menunjukkan kepada Anda. Ada lebih banyak lagi di sana" Mereka pun pergi dan mengambil beberapa batu. Dan untuk memastikan kebenarannya, mereka mengirim beberapa sampel batu untuk diteliti.. Ternyata benar saja, batu-batu itu adalah batu berlian. Mereka menemukan bahwa berhektar-hektar ladang pertanian itu memang dipenuhi oleh begitu banyak berlian berharga.

Singkat kata, pesan moral yang disampaikan oleh cerita tersebut adalah:
Bahwa, sebenarnya kesempatan berharga ada dihadapan kita, hanya saja terkadang kita tidak dapat melihatnya dengan jelas atau bahkan melewatkannya begitu saja. Bukalah mata dan manfaatkanlah kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya, karena kesempatan yang sama tidak akan menghampiri anda dua kali; kesempatan yang kedua mungkin akan lebih baik atau lebih buruk, namun tidak akan sama dengan kesempatan yang telah lewat.

Thursday, September 2, 2010

Resep sederhana "Sup Telur Puyuh"

Bagi yang kurang pandai memasak (seperti saya) dan ingin belajar memasak masakan yang sederhana saja.. Ini dia resep sederhana untuk membuat Sup Telur Puyuh... Selamat mencoba! :)

Sup Telur Puyuh

Bahan:
2 l kaldu
3 sdm maizena
1/4 kg jamur merang
1/2 kaleng kacang polong
20 butir telur puyung matang
Seledri, garam, merica bubuk secukupnya.

Cara membuat:
- Panaskan kaldu, garam dan merica bubuk sampi mendidih.
- Larutkan maizena dengan sedikit air, lalu tuangkan ke dalam kaldu yang telah mendidih.
- Masukkan jamur merang, kacang polong, dan telur puyuh.
- Sajikan dengan menaburkan potongan seledri.

Tuesday, March 10, 2009

IT'S BEEN A WHILE

It’s been a long time since I haven’t post anything in this blog… dan mungkin sekarang adalah saat yang tepat untuk memulai kembali pembelajaran menulis yang dulu pernah mati suri hilang gairah dan kurang waktu dan kesempatan B-) and for the beginning of this, Lenny akan berbagi sedikit cerita a.k.a. ‘laporan’ singkat mengenai ‘petualangan’ kecil hari ini (warning: mungkin cerita ini agak kurang penting untuk dibahas.. tapi yahhh., dibikin enak ajah ^^)

“THE I TIME” REPORT


Hari ini, Senin, 9 Maret 2009 merupakan hari libur nasional, my day off *betapa senangnya* dibuka dengan bangun tidur lebih siang dari biasanya, which is 10am, berbenah seadanya, melakukan ritual sehari-hari –menikmati makanan dan minuman dengan musik mode ON– dan tidur-tiduran, bermalas-malasan, berinternetan, beradu mulut dan argument dengan pasangan lewat handphone, sampai akhirnya perasaan berada pada hi-level boiling point of the moment. And I said “cukup sudah!! I'm going... --kamana kek..yg penting going..kring2 going2--(gym)" Saat itu tujuan yang terpikirkan di kepala hanya satu Blok M plaza..Nowhere else! ^^ -nowhere else??! Tanya kenapa!!??-

Tanya: Kenapa Blok M? Even Blok M sepertinya sudah menjadi tujuan mingguan (secara, I go there almost every week these last two months) namun tetap saja menjadi pilihan terbaik untuk meluangkan waktu menjernihkan pikiran sejenak saat ini.
Jawab: Mungkin karena lokasinya yang dekat dengan tempat saya tinggal, mungkin karena situasinya yang memberikan pengunjungnya banyak pilihan, atau mungkin juga karena memang kebetulan saya punya beberapa keperluan di Blok M. Whatever it might be, anggaplah itu semua adalah kemungkinan yang memang sudah begitu adanya dan sehaarusnya.

Tiba di tempat tujuan, disambut oleh gerimis ringan. Sejuk memang, namun membuat kalang kabut beberapa pejalan kaki yang tidak siap -untunglah sebelumnya saya mengingat sebuah peribahasa lama yang mengatakan “sedia payung sebelum hujan” yang artinya jangan lupa bawa payung kalau langit mulai mendung B-) hehee…-

Dengan gaya casual nan kurang trendy (loose t-shirt and jacket, skinny-pant jeans, flat sandal dan ladies bag) berjalan menyusuri emperan para penjaja tas, celana, baju, dll… Dan inilah bagian yang menakutkan. Barang dagangan dengan harga yang relative terjangkau kerap begitu menggoda hati. Dan benar saja.. begitu mata melihat t-shirt ditawarkan dengan harga yang bisa dibilang bekisar up to 70% dari harga yang mungkin ditawarkan di plaza atau mall-mall elit..segera tangan meraih, memilih dan membeli.. (lol)

Persinggahan 1:
T-shirt low-cut neck warna hitam bergambarkan Duffy Duck.
flying money









Dan hanya berjarak dua kios saja hati tergoda lagi..

Persinggahan 2:

T-shirt putih bergambar icon perempuan dan laki-laki dengan model twin-side alias depan belakang sami mawon, ga da beda! Yang saya suka dari t-shirt ini adalah bentuk bagian lehernya yang unik.
flying money






Lalu berjalan lagi sedikit..dan tercium aroma wangi-wangian..hmmm…
*yukk mari mampirr* Hahahaha… Menuju:

Persinggahan 3:

flying money









Akhirnya sampai juga di plaza…

Persinggahan 4:

Menukarkan tiket hasil berkencan di Amazone bersama sang kekasih dengan beberapa pernak-pernik dan aksesoris lucu…
Lucu kan… 1 buah tas handphone, 3 buah jepitan lima helai rambut, 1 buah sirkam cantik secantik yang punya (ehhmm!!), dan 1 buah pulpen mini serba bisa dibawa kemana-mana karena ukurannya yang hanya sebesar jari telunjuk saja. Lumayan lah, semua item ditukar hanya dengan total: *Tceqechingg* 108 tiket saja ^,^








Next destination… Galeri Indosat...

Persinggahan 5:

Bayar tagihan matrix bulan Februari yang hampir over due.
flying money

Mumpung sudah di plaza yang ber-mini market, maka marilah kita mampir sejenak sekedar membeli produk kecantikan dan beberapa makanan ringan untuk di mess.

Persinggahan 6:

flying money




Rasanya perjalanan di plaza akan kurang lengkap kalau belum menyempatkan diri makan sejenak even hanya untuk sekedarnya..apalagi setelah petualangan berjam-jam... inilah,

Persinggahan 7:

flying money


Nikmatnya dunia..ajiibb dan kenyaangg... errgghh (oops, excuse me!) tapi belum lengkap juga kalo makan tanpa dessert alias makanan pencuci mulutnya.. paling enak ya mungkin semangkok ice creeeam.. dan untuk menghemat budget dan memanfaatkan keadaan..marilah kita menukarkan SMS dengan 1 cup sundae ice cream di KFC, sembari menanyakan kabar member card KFC saya yang menurut kartu registrasinya selesai dibuat dalam waktu 1 bulan… (demi bonus se-bucket ayam goreng yang seharusnya bisa saya dapatkan pada hari ulang tahun saya nanti dengan menjadi member KFC musicaholic community atau yang boasa disebut music hitter)

Persinggahan 8:

Ahhh mantaps..inilah ice cream sundae yang saya tukar dengan SMS 3230.. **BUKANNN!!!** (lmao) ini mah ice cream yang di New York Restaurant..gile, harganya saja dulu (2007) £12,500 (ck-ck-ck..) sapa yang mo belii yaa??!! Andaikan ice cream yang satu ini bisa diukar dengan SMS darii 3230 *Hahaha (lmao)...













Oh well.. karena waktu sudah menunjukan pukul 19.00 WIB, maka sudah saatnya teletubies untuk berpisah… maksud saya… saatnya berpelukan… *bukaann!!!* maksudny, saatnya Cinderella untuk pulang :D
Eh tapi ternyata di perjalanan pulang pun petualangan masih tetap berlanjut… karena jalan pulang saya tetap harus melewati jajaran para penjaja murah hati harga miring yang sama,, dan, yah saya pun tergoda lagi saat melihat jajaran tank-top yang digantung di belakang papan harga dengan tulisan 5 digit angka.. Ya'! Bungkus!! *gubrakz* Ini nieh gambarnya:


flying money









Ahh..itulah akhir dari petualangan saya..sampai saya tiba di rumah tanpa basa-basi segera straight to my room, menyalakan computer, i-net, dan membuat laporan ini  **Tepar!!**

Demikian laporan hari ini, saya Lenny Mantiri melaporkan...
**ga penting banget!!**
Cao...

Saturday, August 16, 2008

THE PRAYER

...

In this manner therefore pray ye:
Our Father who art in Heaven
Hallowed be Thy name
Thy Kingdom come
Thy will be done on earth, as it is in Heaven
Give us this day our daily bread
and forgive us our debts
as we forgive our debtors
And lead us not into temptation,
But deliver us from evil
For Thine is Kingdom, and the power,
and the glory for ever and ever.
Amien


===================================================

Karena itu berdoalah demikian:
Bapa kami yang di sorga,
Dikuduskanlah nama-Mu,
datanglah Kerajaan-Mu,
jadilah kehendak-MU
di bumi seperti di sorga.
Berikanlah kami pada hari ini
makanan kami yang secukupnya
dan ampunilah kami akan
kesalahan kami, seperti kami juga
mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
dan janganlah membawa kami ke
dalam pencobaan,
tetapi lepaskanlah kami dari pada
yang jahat.

[Karena Engkaulah yang empunya
Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan
sampai selama-lamanya. Amien.
]

Matius 6 : 9 - 13

...

Saturday, July 12, 2008

Who Moved My Cheese?

Who Moved My Cheese is a motivational book, which is written by Spencer Johnson and first published on 1998. The main topic of the book is about ‘changes’.

In this book, Mr. Spencer believed that change happen and it affects people or organizations’ life or activity. Usually, people or organization would react in different reaction or behavior. And it is sum-up in four typical characters which are illustrated in four figure. Two figures are mice figure named Sniff and Scurry. The other two are little people figure named Hem and Hew.
Illustrated, they live in a maze, and gazing for the cheese in somewhere in the maze to nourish them and make them happy.
The cheese is a represent of what people or organization want in life, such as good job, a loving relationship, money, a possession, health, or spiritual peace of mind. While maze is a represent of where people or organization could find what people or organization wants.

The synopsis

Sniff, Scurry Hem, and Haw is in maze gazing for cheese. Initially without cheese, each group, the mice and humans paired off, travel the lengthy corridor searching for cheese. One day both groups happen upon a cheese-filled corridor in "Cheese Station C". Content with their find, the humans establish routines around their daily intake of cheese slowly becoming arrogant in the process.

One day Sniff and Scurry arrive at Cheese Station C to find no cheese left but they are not surprised. Noticing the cheese supply dwindling, they have mentally prepared for the arduous, but inevitable task of finding more cheese beforehand. Leaving Cheese Station C behind, they begin their hunt for new cheese together. Later that day, Hem and Haw arrive at Cheese Station C only to find the same thing, no cheese. Angered and annoyed, Hem demands "who moved my cheese?". Unprepared, the humans have counted on the cheese supply to be constant. After verifying that the cheese is indeed gone and ranting at the unfairness of the situation, both head home hungry. Returning the next day, Hem and Haw find the same cheeseless station. Beginning to realize the situation at hand, Haw proposes a search for new cheese, but Hem, dead set in his victimized mindset, nixes the proposal.

Meanwhile, Sniff and Scurry have found "Cheese Station N", a new supply of cheese. Back at Cheese Station C, Hem and Haw, affected by their lack of cheese, blame each other for their predicament. Hoping to change, Haw again proposes a search for new cheese. Hem however, comforted by his old routine and afraid of the unknown, again knocks down the idea. After many days in denial, including a search for cheese behind the wall of Cheese Station C, the humans remain without cheese. One day, realizing his debilitating fear, Haw begins laughing at the situation. Realizing he should move on, Haw enters the maze, but not before chiseling "If You Do Not Change, You Can Become Extinct" on the wall of Cheese Station C for his friend to ponder.

Still fearful of his trek, Haw jots "What Would You Do If You Weren't Afraid?" on the wall and, after thinking about it, begins his journey. Still with worry, perhaps he has waited too long to begin his search, Haw finds some scattered cheese and continues his search. Slowly losing his denial, Haw realizes that the cheese has not suddenly disappeared, but has dwindled from continual eating, and that the older cheese was not as tasty and had been moldy. After a let down, an empty cheese station, Haw begins worrying about the unknown again. Brushing aside his fears, Haw's new mindset allows him to again enjoy life; he has even begun to smile again and is realizing "when you move beyond your fear, you feel free." After another empty cheese station, Haw decides to go back for Hem with the few bits of new cheese he has managed to find.

Uncompromising, Hem turns away the new cheese to his friend's dismay. With knowledge acquired along the way, Haw heads back into the maze. Still going deeper into the maze, impelled by bits of new cheese here and there, Haw leaves a trail of writings on the wall, hopeful that his friend will be aided by them in his search for new cheese. Still traveling, Haw one day comes across Cheese Station N. Abundant with cheese, some varieties strange to him, he has found what he is looking for. After eating, Haw reflects on his experience. Pondering a return to his old friend, Haw decides to let Hem find his own way. Finding the largest wall in Cheese Station N, he writes:

Change Happens
They Keep Moving The Cheese
Anticipate Change
Get Ready For The Cheese To Move
Monitor Change
Smell The Cheese Often So You Know When It Is Getting Old
Adapt To Change Quickly
The Quicker You Let Go Of Old Cheese, The Sooner You Can Enjoy New Cheese
Change
Move With The Cheese
Enjoy Change!
Savor The Adventure And Enjoy The Taste Of New Cheese!
Be Ready To Change Quickly And Enjoy It Again & Again
They Keep Moving The Cheese.

Cautious from past experience, Haw inspects Cheese Station N daily and explores different parts of the maze to prevent complacency from setting in. After hearing movement in the maze one day, Haw realizes someone is approaching the station. Unsure, Haw hopes that it is his friend Hem who has found the way.

Note:

Change is happen a.k.a. it really do exist. Our surrounding is changing through time. Every second there are new inventions, new discoveries, new beggining.. and it affects our life. Thus, people need to change to adapt to these changes, whether we want it or not. And I remember of the conversation that my friend -Filly- and I had last week. She was saying that, people need to change, but change to be better for sure. And we are oblige to be. for if cannot or even do not want to change.. It means that we are just like dead person, and we are find guilty.


Source:
http://en.wikipedia.org/wiki/Who_Moved_My_Cheese
http://www.whomovedmycheese.com